Toyotomi Hideyoshi
Sang Pengubah Mitos
Judul buku : The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVIPenulis : Kitami Masao diedit oleh Tim Clark
Penerbit : Redline Publishing, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2009
Tebal buku : 256 halaman
-----------------------
Siapa sangka seorang bocah petani mampu menjadi penakluk dan penguasa tertinggi Jepang. Dan siapa pula yang mengira seorang samurai tak berpedang menjadi pemenang tunggal dari perang berkepanjangan dan berhasil menyatukan negeri yang sudah tercabik-cabik selama lebih dari 100 tahun. Dialah Toyotomi Hideyoshi, anak petani yang bertubuh kecil, tak berotot, berwajah jelek, dan tak berpendidikan. Bahkan tak ada sejengkal pun dari tubuhnya yang meninggalkan kesan seorang samurai. Namun, segala kekurangannya itu diubah menjadi kekuatan besar yang dapat mengungguli para pesaingnya yang berdarah biru dan menjadi penguasa seluruh Jepang.
Hideyoshi lahir di tengah berkecamuknya masa peperangan antar klan, zaman di mana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Ia lahir di Nakamura, provinsi Owari tercatat tahun 1536 dan saat usianya tujuh tahun ayahnya meninggal sehingga ia harus mendapati ayah tiri yang kerap bertengkar dengannya.
Ia mengerti betul betapa keras hidup keluarganya, terutama ibu yang dikasihinya. Satu saat ia membuat keputusan untuk pergi mencari pekerjaan di saat berusia 15 tahun. Hideyoshi telah bertekad untuk meringankan beban orang tuanya, keluar dari belenggu kemiskinan yang menjeratnya.
Bagi rakyat jelata sepertinya tak ada sedikit pun aset maupun ketrampilan yang dimiliki untuk bertahan hidup dan mencari peruntungan. Hidup di jalanan sebagai pedagang jarum dan menjalani pekerjaan serabutan, telah mengajarinya menjadi mahir dalam menilai karakter orang. Namun antusiasmenya begitu besar untuk menjadi pengikut salah satu klan penguasa yang dianggapnya akan menjadi pijakan karir hidupnya. Hideyoshi menjadi pengikut setia Oda Nobunaga, yang sebelumnya sempat menjadi pelayan keluarga Matsushita. Ia mengabdikan diri sepenuhnya dan memulai karir sebagai pelayan rendahan sembari mendapatkan julukan Monyet dari tuannya.
Meski dengan pekerjaan remeh—sebagai pembawa sandal—Hideyoshi menganggap tugasnya sebagai pijakan menuju jabatan yang lebih tinggi. Karenanya ia melakukan dengan ekstra keras sembari mencari peluang-peluang emas untuk mendemonstrasikan dedikasinya kepada tuannya. Bahkan ia jarang tidur nyenyak semalaman demi mengantisipasi saat-saat tidak biasa di mana sang majikan akan memerlukan bantuannya.
Bagi Hideyoshi, bergabung dengan klan Oda adalah titik balik yang menentukan perkembangannya sebagai seorang pemimpin. Nobunaga sangat mempercayai kompetensi bawahannya, memiliki visi ke depan dan memahami dedikasi. Di sinilah Hideyoshi berhasil mencapai banyak hal yang semestinya mustahil untuk diraih. Sikapnya yang keras terhadap dirinya sendiri membuahkan prestasi yang begitu mencengangkan. Bahkan ia menjadi tangan kanan Lord Nobunaga yang sangat terpercaya dan bersama-sama menjalankan misi menyatukan Jepang, membawa Jepang menuju hari yang baru.
Hideyoshi berhasil mengubah kesan kelemahannya menjadi kekuatan besar yang mengejutkan banyak orang. Karirnya melejit ke puncak kekuasaan, bermula dari panglima perang biasa menjadi pemimpin para penguasa; dari seorang pemimpin yang mengepalai puluhan menjadi penguasa jutaan. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Hideyoshi meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. Dalam sejarah Jepang tercatat dirinya menjadi orang pertama yang menempati posisi itu tanpa pertalian darah dengan kaum bangsawan.
Buku ini seolah menjadi replika diri Hideyoshi sendiri yang mendeskripsikan filosofi seorang pemimpin legendaris Jepang di abad XVI. Kitami Masao, penulis buku ini, mengulas Hideyoshi dari sudut pandang orang pertama, sehingga kehadiran tokoh utamanya benar-benar dapat dirasakan oleh setiap pembacanya.
Kisah Hideyoshi menjadi inspirasi tersendiri untuk dapat diterapkan dalam jalan menuju kesuksesan. Kemauan yang keras dan kenekatannya mengubah keadaan telah menjadi kekuatan pendobrak yang mampu membalik mitos yang tak terbantahkan di zamannya. Dalam kamusnya, siapapun dan dari kalangan manapun mempunyai peluang yang sama dalam memperjuangkan cita-cita dan meraih kemenangan. Adapun pesan yang selalu didengungkan Hideyoshi adalah bekerja keras, bertindak berani dan bersyukur.
Warisan berharga lain yang dapat kita petik yaitu prinsip kepemimpinannya. Hideyoshi merupakan pemimpin yang berangkat dari karir pelayan. Maka inti dari kepemimpinannya adalah pengabdian. Dan yang terpenting lagi, seorang pemimpin harus
mendemonstrasikan integritas mereka dan memenuhi janji mereka berapapun harga yang harus dibayar.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buku diatas adalah buku yang sudah saya baca full 256 halaman. Buku ini bagus sangat inspiratif, ada beberapa kalimat yang mungkin bisa saya share disini dari buku tersebut "kalimat inspiratif", sbb :
" Jika kau memiliki aspirasi untuk memimpin, cobalah berusaha untuk menonjol. Buatlah dirimu berbeda dari yang lain dengan menggali kemampuan alamiahmu. "
" Kebesaran sebagai pemimpin diukkur dari seberapa besar kemampuanmu menerima tantangan yang merisaukan. Raihlah tujuan yang berat dengan melaksanakan Komitmen. Pertaruhkan semua untuk memenangkan semua. "
" Untuk bertahan hidup - dan berhasil - di masa yang berbahaya, temukanlah Rahasia Bertahan Hidup. Ubah Kesialan menjadi Keberuntungan "
" Keraslah pada dirimu sendiri, tapi berlaku lembutlah pada yang lain. Pengampunan akan menciptakan kesetiaan. Perdalam kemampuanmu sebagai pemimpin dengan mengamati rahasia untuk mempertahankan hubungan. Jadilah yang pertama dalam Memaafkan.'
" Kesetiaan berlaku baik dulu maupun sekarang. Kesetiaan bisa didapat, tetapi tidak akan pernah bisa dibeli ."
" Pujian sama sekali tidak membutuhkan biaya sepeserpun, tapi bisa memberikan hasil yang luar biasa. usahakan mengenali Rahasia untul meraih dukungan dalam sikap, Carilah kesempatan untuk Memuji."
" Kebebasan untuk memanjakan diri kedengaran sangat menggoda, tapi seseorang telah belajar bahwa dengan melakukan itu akhirnya menimbulkan lebih banyak kesengsaraan daripada kebahagiaan."
Kisah-kisah kesuksesan akan memberikan inspirasi, tapi kesuksesan biasanya bergantung pada keadaan tertentu. kegagalan, sebaliknya, selalu mengajarkan kita sesuatu. Pemimpin yang efektif harus bisa menerima baik kesuksesan maupun kegagalan, dan belajar dari keduanya.
Komentar
Posting Komentar